"ANTROPOLOGI"
MEMAHAMI KONSEP KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS MPU TANTULAS JAKARTA
Nama Mahasiswa : Irwan Nazri
Dosen Pengampu : Serepina Tiur Maida S.Sos., M.Pd., M.I.Kom
Dosen Pengampu : Serepina Tiur Maida S.Sos., M.Pd., M.I.Kom
![]() |
| https://www.brainacademy.id/blog/jurusan-antropologi |
A. Pengertian Antropologi
Antropologi berasal dari bahasa yuni yaitu Anropo yang memiliki arti Manuasia dan Logy/Logi yang memiliki arti ilmu. daru dua kata tersebut dapatlah di maknaik bawa Antropoli merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang manuasia. secara spesifik dalam troplogi manusia di pandang/ dilihat secara keseluruhannya baik dari segi fisik, emosi, sosial dan budayanya oleh kareana itu antropoli juga sering dikatakan sebagai ilmu tentang manuasia dan kebudayaan.
Harsojo pada bukunya yang berjudul "Pengantar Antropologi" (1984) menjelasakan bahwa Antropologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari umat manusia manuasia sebagai makhluk masyarakat.
Koentjaraningrat pada bukunya yang berjudul "Pengantar natrpologi I" (1996) menjelasakan bahwa Antropologi adalah sebuah ilmu tentang manusia pada umatnya dengan titik fokus kajian pada bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaan manusia.
Masinambow dalam bukunya "Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia"(1997) menjelaskan, Antropologi ialah disiplin ilmu yang mengkaji masyarakat atau kelompok manuasia.
Conrad Philip Kottak dalam bukunya berjudul "Anthropology, the Exploration of Human Diversity" (1991) menjelaskan bahwa Antropologi Merupakan studi terhadap semua masyarakat, dari masyarakat yang primitif (Ancient) hingga masyarakat modern, dari masyarakat sederhana hingga masyrakat kompleks.
Pada tahun 1951 telah dilaksanakan pertemuan yang di namakan Internasional Symposium On Anthropology, yang dihadiri oleh 60 tokoh - tokoh Antropologi dari Ero- Merika dan beberapa tokoh Antropologi dari Uni Soviet, Symposium ini menjadai sangat penting terkait dengan beberapa publikasi buku - buku tentang Antropologi, di antaranya adalah ''Anthropology Today" karya A.R. Kroeber ( 1953), ''An Appraisal of Anthropology Today" karya S.Tax, dkk (1954). "Yearbook of Antthropology" karya W.L. Thimas Jr. (1955), "Currrent Anthropology" karya W.L. Thimas Jr. (1956).
B. Konsep kebudayaan
Antropologi adalah salah satu ilmu sosial yang paling banyak menggunakan kata "Budaya" dan "Kebudayaan" dalam pembahasannya. hal ini di sebabkan oleh tradisi penelitian Antropologi yang bebasis kebudayaan. Ada sekitarr 170 pengertian atau defenisi Kebudyaan yang di hasilakn oleh para antropolog, namun para antropolog tidak dapat memiliki hak eksklusif untuk melakukan klaim atas istilah kebudayaan.
Istilah kebudayan atau culture berasala dari kata colere yang merupakan kata kerja dalam bahasa latin yang memiliki arti bercocok tanam (cultivation). Cultivatiaon atau kultivaasi yang berarti pemeliharaan ternah, hasil bumi, dan upacaara - upacara religius yang darinya diturunkan istilah kultus atau "cult" (Mudji Sutrisno dan Hendra Putranto 2005:7). Dengan pengertian tersebut konsep kebudayaan pada awalnya dihubungkan dengan berbagai aktifitas religious.
Dalam bahasa Indonesia Kebudayaan berasal dari kata buddhayah ( Bahasa sangsekerta), yang merupakan bentuk jamak dari kata Buddi yang memiliki arti "Budi atau akal", berdasarkan kata tersebut seringkali budaya di hubungkan dengan hasil budi atau akanl 'manusia, karena makkhluktuhan yang berakal serta mampu memciptakan budaya hanyalah manusia.
Budaya juga di yakini dilahirkan dari kata majemuk budi - daya yang memiliki makana daya dari budi yang artinya berupa cipta, karsa dan rasa. Rymond Williams berpendapat bahwa kata "Kebudayaan" (Cultur) merupakan satu dari dua atau tiga kata yang paling kompleks penggunaannya dalam bahasa inggris.
pada tahun 1871 Edward B. Tylor mendepenisiskan Kebudayaan sebagai " keseluruhan yang kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum moral, adat dan berbagia kemampuan serta kebiasaan yang di peroleh manusia sebagai anggota masyarakat".
Alferd Weber mendefenisiskan kebudayaan sebagai dustu bentuk ekspresional spiritual dan intelektual dlam substansi kehidupan atau suatu sikap spiritual dan intelektual terhadap substansi kehidupan itu
(Dalam Bassam tibi pada tahun 1999 : 73 )
The Willobank Report (dalam Adeneny, 2001:19) Kebudayaan adalah suatu sistem terpadu dari kepercayaan - kepercayaan (tentang tuhan atau kenyataan ataau makna hakiki), dari nilai - nilai (mengenai apa yang benar , baik, indah dan normatif), dari adat isitiadat (bagaimana berprilaku, berhubungan dengan orang lain, berbicara , berpakaian, bekerja , bermaian, berdagang, bertani , makan, dsb)dan dari lembaga - lembaga yang menggungkapkan kepercayaan, nilai, dan adat istiadat ini ( pemerintah, hukum, pengadilan, mesjid, kuil, gereja, keluarga, sekolah, rumahsakit, pabrik, toko, serikat, klib, dsb) yang mengikat suatu masyarakat bersama sama dan memberikan kepadanya suatu rasa memiliki jati diri, martabat, keamanan, dan kesinambungan.
Pada tahun 1952, Alferd L. Kroeber dan Clyde Kluckhohn mengidentifikasi 179 definisi kebudayaan serta mencoba untuk merumuskan kembali konsep kebudayaan yang di tuangkan kedalam bukunya yang berjudul Culture: A Cjriticsl Review of Concept and Definitions. dalam buku ini keduanya mendefenisiskan kebudayaan sebgai kesluruhan pola - pola tingkah laku dan pola pola bertingkah-laku baik eksplisit maupun implisit yang di peroleh dan diturunkan melalui simbol, yang akhirnya mampu membentuk sesuatu yang khas dari kelompok kelompok manusia, termasuk perwujudannya dalam benda benda materi.
Beberapa konsep dasar yang berhubungan dengan kebudayaan adalah kebudayaan di peroleh melalui proses belajar, kebudayaan menjadi milik bersama, kebudayaan sebagai pola, kebudayaan bersifat dinamis dan adaptif, kebudayaan bersifat relatif/nisbi. contoh proses belajar dalam kebudayaan adalah dengan melakukan pertukaran budaya antara dua atau lebih kelompok manusia. secara universal tidak ada kebudayaan yang tidak berubah dan tidak adaftif terhadap berbagai bentuk perubahan, hal inilah yang menyebabkan kebudayaan bersifat dinamis dan adaftif. Perilaku yang dianggap sopan di satu budaya mungkin dianggap kasar di budaya lain. Misalnya, beberapa budaya menganggap kontak mata langsung sebagai tanda hormat, sementara budaya lain menganggapnya sebagai tanda konfrontasi, perbedaan perbedaan kebudayaan antara satu dengan kebudayaan lainnya menyebabkan kebudayaan itu menjadi relatif atau nisbi.
Sumber :
1. Prof. Dr Endang Komara, M.Si. "Teori Sosiologi dan Antropologi"
2. Drs. Wawan Ruswanto, M.Si. Pada Modul 1 Universitas Terbuka "Pengantar Antropologi"

