INTEGRASI KEBUDYAAN SERTA PERGESERAN MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
Dosen Pengampu : Serepina Tiur Maida S.Sos., M.Pd., M.I.Kom
![]() |
| www.liputan6.com |
A. INTEGRASI KEBUDAYAAN
Menurut E.B. Taylor Kebudayaan merupakan suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, dan kesanggupan serta kebiasaan lainnya yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Menurut Clyde Klichohn dan Kelly Kebudayaan adalah semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia.
B. UNSUR INTEGRASI KEBUDAYAAN
Terapat beberapa unsur - integarasi kebudayaan yang menjadi faktor penting dalam mempengaruhi serta memeiliki fungsi dalam kehidupan sehari - hari, di antaranya adalah
1.Persamaan Norma dan Nilai: Adanya kesepakatan atau penerimaan terhadap norma dan nilai-nilai dasar yang berlaku dalam masyarakat. Ini menjadi landasan bersama untuk bertindak dan berinteraksi.
2.Kesamaan Tujuan: Anggota masyarakat memiliki tujuan-tujuan kolektif yang ingin dicapai bersama, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun politik.
3.Interdependensi Fungsional: Ketergantungan antar bagian-bagian kebudayaan atau antar kelompok masyarakat. Setiap bagian memiliki peran dan fungsinya sendiri yang saling melengkapi untuk menjaga keseimbangan sistem.
4. Komunikasi Efektif: Adanya saluran dan cara komunikasi yang lancar dan dipahami bersama antar individu atau kelompok dalam masyarakat. Komunikasi memfasilitasi pertukaran informasi dan pemahaman.
5. Adaptasi dan Penyesuaian: Kemampuan kebudayaan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan atau pengaruh dari luar, serta kemampuan anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan norma dan nilai yang ada.
6. Identifikasi Diri dengan Kelompok: Anggota masyarakat merasa menjadi bagian dari kelompok atau masyarakat tersebut, sehingga menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas.
Dalam integrasi kebudayaan, keenam unsur ini — persamaan norma dan nilai, kesamaan tujuan, interdependensi fungsional, komunikasi efektif, adaptasi dan penyesuaian, serta identifikasi diri dengan kelompok — berperan penting dalam menyatukan berbagai elemen masyarakat. Unsur-unsur ini secara kolektif memastikan bahwa individu dan kelompok dapat berinteraksi secara harmonis, bekerja menuju tujuan bersama, dan menjaga keseimbangan sosial, yang pada akhirnya menciptakan stabilitas dan kohesi dalam kehidupan sehari-hari.
C. BENTUK PERGESERAN MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
Pergeseran masyarakat dan kebudayaan merupakan fenomena universal yang terus-menerus terjadi seiring berjalannya waktu. Bentuk pergeseran ini sangat beragam, mulai dari perubahan pada nilai dan norma, gaya hidup, cara berinteraksi, hingga penggunaan teknologi. Misalnya, modernisasi dan globalisasi telah membawa perubahan signifikan dalam pola konsumsi, cara berpakaian, dan bahkan struktur keluarga di banyak masyarakat. Pergeseran ini tidak selalu linier; terkadang ia bersifat siklus, di mana beberapa elemen budaya kembali menjadi populer setelah sekian lama, atau bersifat fungsional, di mana perubahan dalam satu aspek masyarakat memicu perubahan pada aspek lainnya untuk menjaga keseimbangan sistem.
Faktor-faktor yang memicu pergeseran ini juga bermacam-macam, baik dari internal maupun eksternal masyarakat. Faktor internal dapat meliputi penemuan-penemuan baru (inovasi teknologi), perubahan demografi (pertumbuhan atau penurunan populasi), konflik sosial, atau bahkan keinginan masyarakat untuk berubah dan berprestasi. Sementara itu, faktor eksternal seringkali berupa pengaruh dari kebudayaan lain melalui akulturasi atau asimilasi, perubahan lingkungan alam, hingga peperangan. Pergeseran ini, pada akhirnya, membentuk kembali identitas sosial dan budaya suatu komunitas, mempengaruhi bagaimana masyarakat beradaptasi dan berkembang di tengah dinamika dunia.
sumber:
1. Aletheia Rabbani, Sosiologi79,"Pengertian Integrasi Kebudayaan, Unsur, faktor, dan Contohnya" 2024.
2. https://kumparan.com/kabar-harian/pengertian-integrasi-kebudayaan-dan-proses-terjadinya-1xBwjiYXQPq/3
3. Koentjaraningrat. (2011). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta.
4. Soemardjan, Selo. (1964). Perubahan Sosial di Yogyakarta. Yayasan Penelitian Sosial.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar