DIFUSI, AKULTURASI, DAN ASIMILASI:
PROSES PERUBAHAN BUDAYA DALAM MASYARAKAT
UNIVERSITAS MPU TANTULAS JAKARTA
Nama Mahasiswa : Irwan Nazri
Dosen Pengampu : Serepina Tiur Maida S.Sos., M.Pd., M.I.Kom
Dosen Pengampu : Serepina Tiur Maida S.Sos., M.Pd., M.I.Kom
Perubahan budaya merupakan fenomena kompleks yang terjadi melalui berbagai mekanisme, termasuk difusi, akulturasi, dan asimilasi. Difusi budaya merujuk pada penyebaran unsur-unsur budaya (gagasan, teknologi, nilai) dari satu kelompok ke kelompok lain, baik melalui kontak langsung maupun media. Menurut Rogers (2003), difusi inovasi terjadi dalam beberapa tahap, mulai dari pengetahuan hingga adopsi. Di era digital, media sosial mempercepat proses ini, seperti viralnya tren K-pop atau kuliner global (Lee, 2022). Namun, difusi tidak selalu berjalan mulus—faktor seperti resistensi budaya dan kesenjangan teknologi dapat menghambatnya (Gudykunst & Kim, 2003).
Akulturasi terjadi ketika dua budaya berinteraksi secara intensif, menghasilkan adaptasi tanpa menghilangkan identitas asli. Berry (2005) mengidentifikasi empat strategi akulturasi: integrasi, asimilasi, separasi, dan marginalisasi. Contohnya, budaya "Kopitiam" di Asia Tenggara yang memadukan unsur Tionghoa dan Melayu (Tan, 2021). Studi terbaru menunjukkan bahwa generasi muda cenderung memilih integrasi, mempertahankan budaya asal sambil mengadopsi nilai baru (Nguyen & Benet-Martínez, 2023). Namun, akulturasi juga bisa memicu ketegangan, terutama jika ada dominasi budaya tertentu (Phinney et al., 2022).
Berbeda dengan akulturasi, asimilasi mengarah pada peleburan identitas budaya minoritas ke dalam budaya dominan. Proses ini sering dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, seperti asimilasi suku minoritas di beberapa negara melalui pendidikan homogen (Alba & Nee, 2020). Di Amerika Serikat, konsep "melting pot" sempat populer, tetapi kritik modern menyoroti hilangnya keragaman budaya (Jiménez, 2022). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa asimilasi total kini dianggap kurang relevan di masyarakat multikultural, yang lebih menghargai koeksistensi budaya (Zhou & Lee, 2023).
Interaksi ketiga proses ini terlihat jelas dalam globalisasi. Misalnya, difusi kuliner Jepang (sushi) ke Barat diikuti akulturasi (fusion food seperti California roll), dan pada kasus tertentu, asimilasi generasi imigran yang meninggalkan bahasa ibu (Hirschman, 2021). Tantangan modern adalah menjaga keseimbangan antara adopsi budaya baru dan pelestarian identitas. UNESCO (2023) menekankan pentingnya "budaya hibrid" yang inklusif tanpa pemaksaan.
Case Study :
Salah satu contoh menarik akulturasi budaya di Indonesia adalah perayaan Imlek oleh masyarakat Tionghoa-Jawa, khususnya di kota Solo. Di sini, tradisi Imlek tidak hanya dirayakan dengan angpao dan barongsai, tetapi juga dipadukan dengan unsur Jawa seperti batik dan gamelan. Misalnya, beberapa kelenteng mengadakan pertunjukan wayang kulit dengan cerita legenda Tionghoa, menggunakan bahasa Jawa (Hoon, 2021). Proses ini menunjukkan strategi integrasi dalam teori Berry, di mana kedua budaya tetap dipertahankan namun saling memperkaya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa generasi muda Tionghoa-Jawa semakin bangga dengan identitas ganda ini (Setiawan, 2023).
Difusi budaya juga terlihat dalam penyebaran kuliner "lontong cap go meh", gabungan lontong (Jawa) dengan hidangan Imlek seperti opor ayam dan sayur labu. Kuliner ini awalnya muncul di Semarang pada abad ke-19 sebagai hasil interaksi pedagang Tionghoa dan masyarakat pribumi (Liem, 2022). Kini, makanan tersebut tidak hanya populer saat Imlek tetapi juga menjadi simbol persatuan budaya. Media sosial berperan besar dalam mempercepat difusi kuliner ini, dengan viralnya konten-konten kreatif tentang "fusion food" Indonesia-Tionghoa (Wijaya, 2023).
Namun, tidak semua proses berjalan mulus. Asimilasi paksa era Orde Baru sempat menghambat ekspresi budaya Tionghoa, seperti pelarangan publikasi aksara Mandarin (1967–1998). Dampaknya, beberapa generasi Tionghoa kehilangan kemampuan berbahasa leluhur (Aguilar, 2020). Pasca-Reformasi, kebijakan multikulturalisme memungkinkan kebangkitan budaya Tionghoa, tetapi fenomena asimilasi struktural tetap terjadi—misalnya, banyak keluarga Tionghoa yang lebih memilih sekolah nasional daripada sekolah Mandarin (Zhou, 2022). contoh ini menunjukkan kompleksitas interaksi difusi, akulturasi, dan asimilasi dalam konteks Indonesia.
Sumber :
Alba, R., & Nee, V. (2020). Assimilation Theory in the New Era of Migration.
Berry, J.W. (2005). Acculturation: Living Successfully in Two Cultures.
Hoon, C.Y. (2021). Chinese Identity in Post-Suharto Indonesia.
Lee, S. (2022). Digital Diffusion of K-pop Culture.
Liem, M. (2022). Culinary Fusion in Java: A Historical Approach.
Nguyen, A.M.D., & Benet-Martínez, V. (2023). Biculturalism and Adjustment.
Zhou, M., & Lee, J. (2023). Beyond Assimilation: Multicultural Societies in the 21st Century.
Zhou, Y. (2022). Language Shift Among Chinese-Indonesians.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar