Minggu, 06 Juli 2025

ANTROPOLOGI (ANALISA FILM)

 

TUGAS MATA KULIAH ANTROPOLOGI
MENGANALISA FILM “GOWOK KAMASUTRA JAWA”
BERDASARKAN PERSPEKTIF DARI SISI BUDAYA, ETIKA, SOSIAL DAN AGAMA

NAMA MAHASISWA           : IRWAN NAZRI

NIM                                        : 243300020012

DOSEN PENGAMPU           : SEREPINA TIUR MAIDA, S.Sos., M.Pd,. M.I.Kom

 

1.    Analisis Budaya

Film Gowok tidak hanya tertarik pada representasi seks yang eksplisit, tetapi membuka kemungkinan untuk membahas tradisi Kamasutra Jawa berdasarkan Rasa (Sensitivitas Dalam) dan Harmoni Kosmos. Berbeda dengan Kamasutra India yang berfokus pada praktik seksual, Kamasutra Jawa dilengkapi dengan penjelasan ajaran Hindu-Buddha dan kebijaksanaan tradisional Jawa seperti Sangkan Paraning Dumadi (asal dan tujuan hidup). Simbol budaya seperti pakaian (batik), tarian, dan ritual bukan hanya hal hiasan yang estetis atau dekoratif, melainkan merupakan metafora hubungan antara manusia-alam dan kehidupan spiritual. Jika film ini dapat mencakup lapisan-lapisan interpretasi ini, maka memiliki kemungkinan untuk menjadi media pelestarian budaya Jawa yang cenderung terlupakan dalam cerita modern.

 

2.    Lensa Etika

Sekarang kita dihadapkan pada pertanyaan sentral: Bagaimana film dapat menggambarkan keintiman tanpa mengorbankan konten moral? Menurut budaya Jawa, hubungan antara suami dan istri bukan hanya untuk seks; itu adalah praktik spiritual yang harus diikuti dalam etika. Jika Gowok mampu menjaga pandangan tubuh agar tidak berubah menjadi objek nafsu dan menyoroti nilai kesabaran, tresna (cinta sejati), dan tanggung jawab, maka Gowok bisa menjadi film romantis alternatif selain film-film yang terjebak dalam klise. Namun, saya khawatir jika secara visual terlalu realistis tanpa latar belakang filosofis dapat mengaburkan nilai-nilai mulia dari Kamasutra Jawa.

 

3.    Paradigma Sosio-Budaya

Film ini dapat menyoroti perjuangan tradisional vs modern, terutama dalam hal hubungan gender. Alih-alih mendukung konstruksi patriarkal Jawa, di mana pria adalah subjek utama dan wanita seharusnya menjadi pendukung, atau bahkan merobohkan mereka untuk menciptakan paradigma baru, dengan membentuk kelompok wanita sebagai subjek independen? Di tengah masyarakat Indonesia yang semakin sensitif terhadap pertanyaan tentang kesetaraan, film ini dapat mencerminkan perjuangan antara nilai-nilai lama dan baru. Jika berhasil, film ini bisa memulai percakapan produktif tentang peran gender sambil menghormati asal-usul budaya.

 

4.    Spiritualitas Hubungan Manusia

Kamasutra Jawa tidak terpisah dari nilai-nilai Hindu-Buddha dan Kejawen, yang menganggap cinta sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (Manunggaling Kawula Gusti). Film ini dapat menunjukkan bahwa keintiman fisik adalah bagian dari meditasi hubungan, dan bukan hanya kesenangan duniawi. Namun, masalahnya sekarang adalah bagaimana memperkenalkan tema semacam itu dengan cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama mayoritas di Indonesia (Islam dan Kristen) yang mungkin memiliki pandangan berbeda tentang ekspresi seksual. Jika Gowok dapat menemukan perpaduan antara spiritualitas Jawa dan nilai-nilai agama universal, itu akan menjadi karya yang inklusif dan mendalam.

 

ANTROPOLOGI (ANALISA PODCASH)

 

Resume podcast Antropologi Part 2 Kelompok 8 Fakultas Hukum P2K Universitas MPU Tantular
Tema : "Sistem Mata Pencarian Tradisional di Indonesia”

Link Youtube : https://youtu.be/SJg0bbjwrbM?si=zd4WtyRp6ILZDDRP


                                 
Nama Mahasiswa      : Irwan Nazri
Nim Mahasiswa         : 243300020012
Matakuliah                 : AntropologI
Dosen Pengampu       : Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom

 

Isi Resume :

           Diskusi dalam video ini mengulas secara mendalam tentang sistem mata pencarian tradisional di Indonesia, dengan narasumber Ibu Serevina Tiurmaida, seorang dosen antropologi dari Universitas MPU Tantular. Beliau menjelaskan bahwa mata pencarian tradisional adalah pekerjaan yang bergantung pada alam, seperti memancing dan bertani, berbeda dengan pekerjaan modern yang lebih mengandalkan teknologi.

              Dalam bidang antropologi, studi tentang mata pencarian tradisional tidak hanya fokus pada produk akhir. Antropolog juga menganalisis berbagai aspek lain seperti metode distribusi, tenaga kerja, sumber daya, dan modal yang terlibat dalam proses tersebut. Meskipun demikian, aspek ekonomi dan hasil produksi biasanya menjadi ranah studi para ekonom.

Indonesia, dengan lebih dari seribu kelompok etnis, menunjukkan keragaman luar biasa dalam sistem mata pencarian tradisionalnya. Contoh-contoh yang disoroti antara lain:

  1. Di Sumatra Utara, mata pencarian utama adalah memancing dan bertani, dipengaruhi oleh etnis seperti Nias, Batak, dan Aceh.
  2. Masyarakat Timor sebagian besar mengandalkan berkebun.
  3. Sementara itu, di Manado, khususnya di daerah Tomohon, masyarakat dikenal dengan pertanian cengkeh dan perkebunan sayuran.

Salah satu tantangan utama bagi produsen tradisional adalah pemasaran dan distribusi produk mereka, seringkali karena kurangnya koneksi atau strategi komunikasi yang efektif. Untuk mengatasi hal ini, Ibu Serevina menyarankan penerapan prinsip manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian (POAC). Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya strategi pemasaran 4P: produk, harga, tempat, dan promosi.

Beberapa strategi promosi yang disarankan meliputi promosi dari mulut ke mulut, penjualan langsung, kemitraan dengan pihak di kota-kota besar seperti Jakarta, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah. Dukungan dari pemerintah setempat, melalui hubungan baik dan pengajuan proposal, sangat vital untuk memfasilitasi distribusi dan mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Di akhir diskusi, para pembawa acara mengucapkan terima kasih kepada Ibu Serevina atas wawasan yang dibagikan, dan mengundang pemirsa untuk berinteraksi lebih lanjut.

Rabu, 02 Juli 2025

ANTROPOLOGI

 Peran Penelitian Etnografi dalam Pengembangan Aspek Mata Pencaharian di Tanjungbalai, Sumatera Utara


UNIVERSITAS MPU TANTULAS JAKARTA
Nama Mahasiswa  : Irwan Nazri
Dosen Pengampu  : Serepina Tiur Maida S.Sos., M.Pd., M.I.Kom


Sumber: RRI.co.id 

Penelitian etnografi memiliki peranan krusial dalam proses pembangunan, terutama dalam menganalisis dinamika mata pencaharian masyarakat di Tanjungbalai, Sumatera Utara. Sebagai kota pesisir dengan keragaman budaya serta aktivitas ekonomi yang berfokus pada kelautan, perdagangan, dan pertanian, etnografi mampu mengidentifikasi praktik sosial, nilai-nilai lokal, dan tantangan yang dihadapi oleh komunitas dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup. Melalui pendekatan kualitatif yang mendalam, penelitian ini dapat mencatat cara masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan ekonomi, kebijakan pembangunan yang ada, serta pengaruh globalisasi. Data etnografis menjadi landasan untuk merumuskan kebijakan yang lebih inklusif dan sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Salah satu kontribusi penting dari etnografi adalah kemampuannya untuk mengenali potensi ekonomi lokal yang sering kali terabaikan dalam perencanaan pembangunan tradisional. Di Tanjungbalai, banyak penduduk bergantung pada sektor perikanan tradisional dan perdagangan antar-pulau. Etnografi dapat mengungkap struktur sosial terkait mata pencaharian ini, termasuk peran perempuan dalam pemasaran hasil laut atau sistem kekerabatan dalam usaha kecil. Penelitian oleh Siregar & Wahid (2020) menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan yang tidak mempertimbangkan aspek budaya cenderung gagal meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dengan demikian, etnografi berfungsi sebagai jembatan antara perencana pembangunan dan realitas sosial yang ada di lapangan.


Lebih lanjut, penelitian etnografi juga berperan penting dalam memetakan dampak dari pembangunan infrastruktur dan industrialisasi terhadap mata pencaharian tradisional. Di Tanjungbalai, proyek seperti pelabuhan atau kawasan industri dapat mempengaruhi aktivitas nelayan serta pedagang kecil. Etnografi memberikan suara bagi kelompok rentan agar kebijakan pembangunan tidak hanya menguntungkan investasi besar tetapi juga melindungi hak-hak ekonomi masyarakat setempat. Studi Lubis (2019) menekankan pentingnya mempertimbangkan kearifan lokal serta keberlanjutan ekologis dalam konteks pembangunan berkelanjutan di Sumatera Utara.

Dengan demikian, penelitian etnografi berfungsi tidak hanya sebagai alat analisis tetapi juga sebagai advokasi untuk mewujudkan pembangunan yang adil. Di Tanjungbalai, penerapan temuan-temuan etnografis ke dalam rencana pembangunan dapat memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mengabaikan kelompok-kelompok marginal.


Sumber : ANTARA News_Sumatera Utara


Referensi:

Siregar, M., & Wahid, A. (2020). Dinamika Sosial-Ekonomi Masyarakat Pesisir: Studi Kasus di Sumatera Utara. Jurnal Antropologi Indonesia.

Lubis, R. (2019). Pembangunan Berkelanjutan dan Kearifan Lokal: Tantangan di Kawasan Pesisir Sumatera Utara. Penerbit Universitas Sumatera Utara.

ANTROPOLOGI (ANALISA FILM)

  TUGAS MATA KULIAH ANTROPOLOGI MENGANALISA FILM “ GOWOK KAMASUTRA JAWA” BERDASARKAN PERSPEKTIF DARI SISI BUDAYA, ETIKA, SOSIAL DAN AGAM...